SURAT kali ini mengulik strategi survive para seniman, juga keterlibatan lembaga negara. Beberapa hal bahkan mungkin telah klasik tapi berharap ada yang bisa tetap berguna, walau itu hanya sebuah kenyataan, semacam rasa ketidaksendirian dalam menanggungkan pilihan.
Dicurigai ada sistem “ijon” di antara dinamika seni visual: seorang seniman yang hidup dalam tanggungan pemodal dan harus memasok karya. Tapi segmen ini datanya masih timpang, nyaris serupa gossip sehingga tidak dilaporkan. Kemudian muncul pertanyaan mengapa sistem “kredit” ini masih dirasa “memalukan” atau tabu, justru setelah sekian lama Indonesia dibelit oleh banyak kredit macet dari pengusaha-pengusaha bank? Apakah seniman juga mangkir dari pasokan kreditnya? Mangkir dalam gagasan, tema, atau dalam daya? Kalau itu soalnya, toh banyak seniman yang sebenarnya telah macet, telah selesai, dengan karya yang “itu-itu” saja.




