ARCHIVE EXHIBITION SERIES
Pembukaan Pameran:
Sabtu, 12 Desember 2009, jam 19.30 WIB
di Gedung Bank Indonesia, Yogyakarta
Retrospeksi 21 Tahun Biennale Jogja
Oleh: Grace Samboh
“Dokumentasi Biennale Jogja (BJ) sejak 1988 ini diarsipkan dan disajikan untuk merayakan BJ yang ke-10. BJ sudah membuktikan diri lebih konsisten dalam penyelenggaraannya ketimbang Biennale Jakarta, Surabaya, atau Bali. Pameran arsip BJ ini sekaligus ditujukan untuk menjadi ajang retrospeksi, baik bagi para penyelenggara, publik seni, dan masyarakat umum. “
Dalam 21 tahun eksistensinya, BJ berganti wajah sebanyak tiga kali. Awalnya, acara yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) ini bertajuk Biennale Seni Lukis Yogyakarta (BSLY). Selama tiga kali penyelenggaraannya, BSLY memberikan penghargaan pada sejumlah pelukis untuk karya-karya mereka. Ketua TBY saat itu, Rob M. Mudjijono, menyatakan bahwa tujuan utamanya bukanlah mempertandingkan karya-karya tersebut, tetapi untuk memacu semangat berkarya supaya ke depannya BSLY bisa menjadi barometer perkembangan seni lukis di Yogyakarta.
Tak diduga, tak dinyana; pada perhelatan BSLY III 1992 muncul sebuah sekelompok seniman muda yang mengkritisi monopoli penyelenggaraan BSLY. Selain karena syarat-syarat peserta BSLY yang dinilai tidak terbuka, para seniman muda ini juga menentang pemapanan seni lukis sebagai seni rupa “tinggi”. Para seniman muda ini menghelat BINAL Experimental Arts sebagai bentuk kritik mereka terhadap institusi Biennale.
BINAL dengan hampir 300 partisipan ini dihelat di delapan lokasi, antara lain Senisono Art Gallery, rumah Eddie Hara, rumah Regina Bimadona, dan Akademi Musik Indonesia. Keempat lokasi lainnya merupakan ruang publik, yaitu kawasan Boulevard UGM, Stasiun Tugu, Gampingan Baru, dan Alun-alun Utara. Perhelatan ini juga mendobrak sekat-sekat disiplin seni rupa (yang ‘terjebak’ dalam bentuk seni lukis) pada masa itu; kebanyakan karya-karya BINAL didominasi menggunakan media instalasi, performans, dan bentuk-bentuk multimedia lainnya.
Kehebohan BINAL yang dibuka persis sehari sebelum BSLY III 1992 ini juga berhasil mencuri perhatian media massa dan publik. BSLY III 1992 tidak mendapatkan tempat dalam media massa, kecuali pada saat harus dibandingkan dengan BINAL.
Dua tahun kemudian, TBY menghelat pameran Rupa-rupa Seni Rupa yang terdiri dari tiga kegiatan, yaitu BSLY IV 1994, Pameran Seni Rupa Kontemporer/Instalasi, dan Pameran Seni Patung Outdoor. Pameran Rupa-rupa Seni Rupa ini merupakan dampak langsung dari BINAL. Selain mengikutsertakan karya-karya non-lukisan, peserta pameran ini juga tidak dibebani syarat-syarat yang terlalu ketat seperti BSLY sebelumnya. Mengikuti jejak BINAL, Rupa-rupa Seni Rupa juga mengadakan sarasehan yang bertujuan untuk berbagi kritik dan saran demi kemajuan seni rupa.
Pada 1997, BSLY berubah nama menjadi Biennale Seni Rupa Yogyakarta (BSRY), dan sudah tidak lagi berkonsentrasi hanya pada seni lukis.
Pasca-reformasi, BSRY masih dihelat sekali sebelum akhirnya berganti wajah lagi menjadi Biennale yang kita kenal sekarang, BJ. Reformasi yang menghasilkan Kebijakan Otonomi Daerah pada 1999 membuat TBY sempat kehilangan sokongan dana dari pemerintah pusat. Akibatnya, BSRY VII absen satu periode.
Pada 2003, BJ hadir dengan format penyelenggaraan baru; menggunakan seorang kurator (dan berbagai narasumber), membuka diri untuk didukung oleh badan-badan komersial, dan mulai menggunakan tema dan tajuk penyelenggaraan. BJ VII 2003 bertajuk Countrybution dengan kurator Hendro Wiyanto. Semenjak disebut BJ, citra dan kualitas penyelenggaraan BJ tidak bisa dipisahkan dari kuratornya (atau tim kuratornya). Sampai hari ini …
Akan jadi seperti apa wajah BJ yang selanjutnya?
Kawan-Kawan Revolusi: Arsip Jogja circa 1940-60
Oleh: Farah Wardani
Yogyakarta, 1946. Gentingnya situasi Jakarta yang diduduki tentara Sekutu menyebabkan perpindahan Ibukota ke kota kerajaan ini pada tahun itu, ketika Republik Indonesia belum lagi berumur setahun setelah pernyataan kemerdekaannya.
Bersamaan setelah itu pula, selama lebih dari satu dekade setelahnya di bawah pimpinan Sultan Hamengku Buwono IX, berbagai dinamika terjadi di kota ini, seperti berdirinya Universitas Gadjah Mada dan ASRI, yang menggerakkan arus perkembangan dunia akademi dan seni di kota ini. Pelajar, cendekiawan dan seniman muda berdatangan ke Jogja untuk belajar dan berkarya, semuanya dengan semangat Nasionalisme yang dikibarkan oleh Sang Pemimpin Besar Revolusi Presiden Sukarno – bercampur dengan simpang-siur perdebatan ideologi politik dan polemik pencarian bentuk kebudayaan Indonesia yang ‘sejati’ di tengah benturan antara modernisme dan tradisi.
Dalam dunia seni rupa, kunci stimulus pergerakan seni dan budaya terutama terletak pada tumbuhnya sejumlah asosiasi seniman yang sangat signifikan pada masa itu, setelah Persagi dan Putera di Jakarta. Dua yang paling berpengaruh adalah Seniman Indonesia Muda (SIM) yang berdiri tahun 1946 di Madiun namun kemudian mengalihkan aktivitasnya di Jogja dan Solo, Pelukis Rakyat (PR) yang didirikan tahun 1947, Pelukis Indonesia (PI) tahun 1950. Banyak dari proses pengkaryaan mereka pun disubsidi oleh pemerintah.
Tokoh-tokoh yang sekarang dianggap sebagai para ‘pendiri’ seni rupa modern Indonesia, pada saat itu saling berkerja sama dalam mengembangkan perkumpulan-perkumpulan ini, seperti S Soedjojono, Affandi, Hendra Gunawan, Hariadi Sumodidjojo, Kusnadi, dan banyak lagi. Bersama-sama, mereka merekam kehidupan dalam karya-karya rupa yang juga kebanyakan menjadi pernyataan visual akan semangat kemerdekaan dan perjuangan kerakyatan yang menjadi zeitgeist pada masa Negara RI masih balita.
Semua perupa ini, seperti juga rakyat Indonesia yang sedikit banyak terwakili oleh mereka, menginginkan dan mencoba merumuskan perubahan yang lebih baik untuk semuanya, dengan berbagai cara yang serupa namun tak sama. Sementara itu, ketegangan sosial-politik antara Negara baru ini baik antara pemerintah dengan masyarakatnya dan juga dengan dunia pascakolonial perlahan memuncak, membawa alur sejarah ke fase selanjutnya seperti yang telah kita ketahui bersama.
Sebagai satu dari dua bagian partisipasinya dalam Biennale Jogja X 09: Jogja Jamming, IVAA mempersembahkan Pameran Arsip ‘Kawan-Kawan Revolusi: Arsip Jogja circa 1940-60’. Pameran ini adalah upaya penggalian kembali zeitgeist yang tumbuh pada masa itu, berikut berbagai benturan serta narasi kecil yang tercakup di dalamnya, dengan Jogja sebagai situs utama dari salah satu periode paling penting dalam sejarah seni rupa Indonesia ini.
Sebagian dari materi data yang hadir dalam pameran ini adalah yang secara khusus dikumpulkan oleh IVAA seiring dengan pengembangan program Mitra Arsip IVAA, sebuah kerjasama dokumentasi antara IVAA dan sejumlah institusi budaya serta keluarga seniman, yang kemudian difokuskan dengan membangun fitur tersendiri di IVAA Online Archive, yaitu fitur Koleksi Khusus/Special Collections, yang dapat diakses melalui link ini: http://www.ivaa-online.org/archive/.





